Minggu, 18 Mei 2014

GUNAWAN WIBISONO, PATRIOT ATAUKAH PENGKHIANAT GUNAWAN WIBISONO,

GUNAWAN WIBISONO, PATRIOT ATAUKAH PENGKHIANAT
GUNAWAN WIBISONO,
PATRIOT ATAUKAH PENGKHIANAT

Oleh : M. Aris Nurcholis

Yang paling menarik dari menyaksikan pertunjukan wayang adalah ajaran-ajarannya tentang arti hidup yang senantiasa muncul dari kisah tokoh-tokohnya. Selalu saja ada pelajaran yang bisa saya renungkan bila selesai menonton suatu pertunjukan wayang (kulit).
 
Ramayana VS Rahwana
Gunawan Wibisono adalah adik Prabu Rahwana yang bertahta di Kerajaan Alengka. Sementara Ramayana adalah Pangeran dikerajaan Ayodya yang kondang mempunyai istri sangat cantik, Dewi Shinta. Entah karena motif politik apa, atau karena benar-benar naksir berat dengan Dewi Shinta, Rahwana nekat menculik istri sang Rama tersebut yang sedang menjalani masa pengasingan di hutan akibat gonjang-ganjing politik di negerinya. Tentu saja perbuatan ini mengundang polemik antara 2 kerajaan besar ini.
 
Cerita selanjutnya adalah perang abadi antara Pasukan Ramayana yang merupakan simbol dari kebenaran didukung sepenuhnya oleh sang adik Laksmana serta balatentara kera pimpinan Hanoman versus bala tentara Rahwana (konon digambarkan bertubuh besar dalam wayang disimbolkan dengan seorang raksasa) simbolisasi dari kejahatan, didukung oleh para panglimanya, Indrajit, serta tentu saja sang adik Kumbakarna, dikenal sebagai seorang ksatria Alengka yang gagah berani. Mengapa Kumbakarna, seorang ksatria yang harusnya berdiri diatas kebenaran bersedia membela Rahwana yang jelas-jelas adalah antek dari kejahatan, diktator militer, penindas rakyat? Iya sih masih saudaranya sendiri, tetapi mengapa Kumbakarna bersedia mengangkat senjata untuk melawan pihak yang jelas-jelas dia ketahui adalah seorang ksatria dalam posisi benar dan untuk alasan benar, berusaha meminta kembali istri sahnya, seorang raja yang kesohor adil bijaksana?
 
Rupanya Gunawan mempunyai alasan sendiri. Karena Gunawan Wibisono adalah ksatria sejati kerajaan, maka dia haruslah seorang nasionalis sejati pula. Biarpun sang raja salah, tapi musuhnya adalah negara lain, bagaimanapun terhadap musuh asing nasionalis sejati akan membela. Right or wrong is my country, demikian mungkin penggambaran prinsip Kumbakarna meminjam istilah Adolf Hitler.
 
Jalan berbeda ditempuh oleh adik Rahwana yang lain, Gunawan Wibisono, yang juga seorang ksatria gagah perkasa, yang diawal perang adalah pembela Rahwana namun kemudian menyadari kekeliruan sang kakak, dan berusaha menasehati. Namun karena tidak bisa, Dia pilih menyeberang bergabung dengan Rama menumbangkan keangkaramurkaan Rahwana. Terhadap keputusan saudaranya ini Kumbakarna menghormati prinsip satria dan jika memang jalan yang berbeda maka dia akan siap berhadap-hadapan dimedan laga dengan sang adik.
Lantas status apakah yang pantas diberikan untuk dua ksatria bersaudara ini? Dalam nilai-nilai universal, tindakan Gunawan Wibisana adalah tepat. Dia tidak peduli, siapapun yang melakukan ketidakadilan atau kedzaliman adalah musuh kebenaran dan harus dilawan, tidak peduli dia kakaknya sekalipun. Tetapi dimata kaum nasionalis Alengka, tindakan nya adalah suatu pengkhianatan besar. Demikian pula tindakan Kumbakarna, dimata nilai-nilai universal adalah suatu tindakan salah membiarkan dan membela suatu kedzaliman merajalela. Tapi dimata rakyat Alengka, Kumbakarna adalah pahlawan pembela bangsa dan negara walaupun diakhir cerita Dia meninggal dalam duel melawan Laksamana adik Rama.
Sultan Hasanuddin-Aru Palaka
Kalau kita mencoba melihat sejarah bangsa ini, pada masa perjuangan melawan penjajahan belanda di Sulawesi selatan kita akan mendapati seorang pahlawan Indonesia bernama Sultan Hasanuddin, Penguasa kerajaan Makassar. Sementara sejarah mencatat pula (sebelum akhirnya di revisi) seorang yang dianggap pengkhianat bernama Aru Palaka, Raja kerajaan Bone (Bugis), yang bersedia bekerjasama dengan Belanda melawan dan akhirnya mengalahkan Hasanuddin.
 
Seperti terungkap kemudian, bahwa sudah lama kerajaan besar Bone berada dalam penjajahan kerajaan Makassar, bermacam perlawanan dilakukan untuk membebaskan Bone dari cengkeraman Makassar. Lantas apakah salah bila Aru Palaka memanfaatkan situasi konflik Hasanuddin-Belanda untuk menghancurkan sang penjajah? Dalam konteks Nasional Indonesia saat ini bisa dianggap Aru Palaka adalah pengkhianat besar karena berkonspirasi dengan Belanda mengalahkan pahlawan Republik Indonesia Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin. Tetapi dalam konteks Nasional Kerajaan Bone saat itu, Hasanuddin (Makassar) adalah penjajah yang mesti dilawan, dan Belanda adalah kawan karena mereka mempunyai kepentingan yang sama terhadap Hasanuddin. Makanya konteks perjuangan keduanya melahirkan tafsiran yang berbeda bagi generasi sesudahnya, karena setelah 17 Agustus 1945 tidak ada lagi kerajaan Makassar yang. berdaulat sendiri, tidak ada lagi Kerajaan Bone yang berdiri sendiri tetapi yang ada hanyalah Indonesia.
 

Palembang, 2006
Diposkan oleh arisnurcholis di 10.25 


Bukan Pahlawan Chord

Em C G D 

    Em       C     G         D 
Disudut kota ini melangkah sepi 
     Em     C     G         
Dihantui mimpi abadi 
       Em      C      G         D 
Tangis dan air mata dipinggir jalan 
     Em       C      G     
Kapankah ini kan berakhir? 

Em C G D  

    Em      C         G        D 
Pemabuk dipelukan pelacur jalanan 
      Em      C      G 
Bermahkotakan duri tajam 
      Em     C       G        D 
Tutup matamu kawan besarkan hati 
      Em      C       G 
Surga dan neraka menanti? 

[reff] 
    C        G        D        G 
Aku bukan pahlawan berparas tampan 
      C       G        D   
Sayap-sayap pupus terbakar 
      C       G          D     G 
Salah benar semua pernah kulakukan 
       C       D       G 
Angkat gelas kita bersulang! 

Em C G D 2x 
aa... aa... 

[Interlude] Em C G D Em C G 2x 

     Em      C       G        D 
Pertarungan abadi setan malaikat 
      Em       C        G    
Luluh lantak darah mewangi 
      Em      C       G        D 
Berhamburan sejuta nafas terakhir 
    Em      C       G 
Dunia berhenti tertawa? 

to [reff] 

       C       D       G 
Angkat gelas kita bersulang! 
      C        D        G 
Walau kalah jangan menyerah! 
       C       D       G 
Angkat gelas kita bersulang!

Jumat, 16 Mei 2014

Cerpen Gadis Di Seberang Jalan

Gadis di Seberang Jalan
            Namaku Guntur.Kini usiaku menginjak remaja,tidak salah bagiku untuk mencari setiap kebahagiaanku,dan juga tidak menjadi hal yang tabuh apabila aku ingin mengenal sifat dari lawan jenisku. Tersirat keinginanku untuk mencoba mendekati lawan jenis.Aku ingin merasakan indahnya masa muda diusia puberku ini.Apalagi ketika ada keluarga yang baru pindahan dari Palembang di depan rumahku.Terlebih lagi ketika aku dengar dari ibuku kalau warga pindahan dari Sumatera tersebut mempunyai tiga anak,dan salah seorang dari mereka adalah perempuan yang seumuran denganku.
            Hari berganti hari,aku sangat bosan ketika semuanya hanya aku isi dengan tugas-tugas rumah yang menumpuk,tetapi bagaimana lagi itu sudah merupakan tugasku sebagai seorang pelajar.aku ingin sekali berkenalan dengan dia.Akan tetapi semua itu aku kira sangat sulit untuk terlaksana.Bagaimana tidak,didalam keluarganya memiliki sebuah budaya dimana anak-anaknya tidak boleh berkenalan apalagi bermain dengan lawan jenis walaupun sebaya.

            Kesehariannya setiap kali keluar dari rumah,seluruh tubuh dan mukanya selalu ditutupi dengan sebuah pakaian berwarna hitam panjang dari kaki hingga ujung rambutnya yang disebut dengan cadar.Oleh karena pakain yang dikenakan olehnya itu maka tidak ada satupun dariku maupun tetangga-tetanggaku yang penah melihat parasnya.Akan tetapi karena aku sering sekali melihatnya tidak sulit bagiku untuk membedakan apakah itu dia atau bukan.
            Sebuah tanya kadang timbul dipikiranku.”Apakah dibalik kain hitam itu akan aku dapati seorang yang memiliki paras yang memepesona?”sebuah pertanyaan yang olehku sulit untuk mendapatkan jawabannya.Aku belum pernah lihat langsung wajahnya,tetapi menurut cerita ibuku yang pernah masuk ke rumahnya,Perempuan yang membuat aku penasaran itu, ibuku bilang kalau  dia,”cantik,putih,bersih,berambut panjang,mancung dan ramping”.itu yang membuat aku semakin penasaran.
            Minggu berganti,datanglah seorang wanita yang memakai cadar hitam yang sama datang ke rumahnya  untuk diajak  berangkat sekolah dengan bersepeda.Saat itu aku juga sedang bersiap diri untuk berangkat sekolah juga,maka tidak sengaja aku dengar mereka sedang berbincang-bincang
Tamu,”Assallaumalaikum?”
Ibu,”Waallaikumussalam.”
Tamu,”Fatimahnya sudah berangkat belum ummi?”
Ibu,”Belum nak,Ummi panggilkan dulu ya?Fat dicari temanmu?”
Fatimah,”Iya ummi,Ini sudah selesai.”
Setelah itu aku tahu  jika nama dari wanita dibalik cadar hitam itu adalah Fatimah.Pernah pada suatu saat Ibuku mau mengantarkan kepada keluarganya sebuah makanan kotak dari tetanggaku yang sedang ada acara pernikahan.Karena aku penasaran sekali dan ingin melihat dia,aku bilang ke ibuku kalau aku saja yang menghantarkan makanan itu ke rumah Fatimah.
Aku,”Assalamualaikum.”
Fatimah,”Waalaikumsalam?,siapa ya?”
Aku,”tetangga depan rumah,ini mau mengantarkan makanan.”
Fatimah,”Taruh saja di jendela nanti aku ambil!”
karena aku yakin kalau itu suara dari Fatimah maka aku tidak mau menuruti apa yang diperintahkannya.Jujur aku ingin sekali melihat wajahnya.
Aku,”Kamu keluar sendiri ya.”
Fatimah,”Taruh aja di jendela nanti aku ambil.”
Aku,”Owh tidak bisa,kamu keluar now.’
Beberapa lama kemudian dia kenakan lagi cadaranya untuk mengambil makanan yang aku bawakan.Ketika dia menjulurkan tangan untuk mengambil makanan yang aku bawa,aku lihat tangannya putih sekali.Ketika berjalan pulang,sebuah tanya terbersit dibenakku,”Apakah dia pakai cadar karena kecantikannya tidak boleh dilihat oleh orang umum?”
Entahlah,yang jelas paling tidak aku pernah dekat sesaat dengan dia.
            Aku merasa sedikit kehilangan cahaya harapan ketika tahu kalau Fatimah akan pindah.Aku tahu dari ibuku jika keluarganya mengontrak disini Cuma satu tahun saja.Serta kurang dua minggu lagi aku dengar di akan pindah.Padahal pertanyaanku tentang kapan aku bisa dekat dan melihat parasnya belum juga terjawab.Kegelisahan sering kali menyeruak dikalbuku.
            Beberapa hari ini aku tidak melihat dia.Suaranya pun juga tidak pernah aku dengar lagi.Pagi biasanya ketika akan berangkat sekolah aku sering melihat dia tetapi kini sudah tidak aku dengar lagi.Aku dengar dari ayahnya langsung jika Fatimah kini berada di rumah neneknya di Palembang serta tidak akan balik ke Solo.
            Hari yang tidak aku inginkan akhirnya terjadi juga.Sebuah mobil bak terbuka berhenti tepat di depan rumahnya.Semua orang tampak membantu keluarga Fatimah untuk mengangkat barang ke atas mobil itu tak terkecuali aku.Semua barang-barang yang ada di rumah Fatimah telah selesai di angkat ke atas mobil bak.Meskipun begitu kekecewaan masih ada dalam diriku karena rasa penasaranku belum terpuaskan.
            Sore hari ketika rumahnya telah dikosongkan,diam-diam aku masuk ke rumahnya dan masuk ke ruangan-ruangannya.Ketika masuk pada salah satu ruangan,aku dapati beberapa fotonya tertempel di dinding.Meskipun foto yang tertempel di dinding itu belum tentu foto dari Fatimah tetapi aku yakin bahwa itu adalah dia.Karena foto yang aku lihat ini sama seperti ciri-ciri fisik yang diceritakan oleh ibuku beberapa bulan yang lalu.

            Walau aku tidak lagi bisa melihat perempuan bercadar itu lagi,akan tetapi beberapa foto yang aku genggam ini minimal sudah bisa mengurangi penasaranku akandirinya.Doaku kepada Yang Maha Kuasa,”Ya Allah,Jodohkanlah Aku dengan dia Ya Allah.Apabila dia bukan Jodoh hamba,maka jauhkanlah dia dari hamba ya Allah”

Senin, 05 Mei 2014

Menanti Sebuah Jawaban Chord Padi

Menanti Sebuah Jawaban Chord Padi

C         G           Am 
Aku tak bisa luluhkan hatimu 
    F         D            G 
Dan aku tak bisa menyentuh cintamu 
   C            G        Am 
seiring jejak kakiku bergetar 
    F            D         G 
Aku tak terpagut oleh cintamu 

    C         G           Am 
Menelusup hariku dengan harapan 
      F            C          G 
Namun kau masih terdiam membisu 

            C                Am 
Sepenuhnya aku ingin memelukmu 
               Em                   G 
Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu 
             C              Am 
Setulusnya aku akan terus menunggu 
               Em                  G 
Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu 

    C          G              Am 
Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku 
    F          D        G 
Semoga kau tau isi hatiku 
      C           G           Am 
Dan seiring waktu yg terus berputar 
    F           D          G 
Aku masih terhanyut dalam mimpiku 


[interlude] C G C G 
            C G Am G F D G

Gundul-gundul PaculChord

Chord Gundul Pacul
G C Em F C
Gundul Gundul Pacul cul, gembelengan
G C Em F C
Nyunggi nyunggi wakul kul, gembelengan
C F G C F C
Wakul nggimpang segane dadi sak ratan
C F G C F C
Wakul nggimpang segane dadi sak ratan

When I see you smile Chord Firehouse

"When I See You Smile" - Diane Warren (performed by Bad English)

G=      A=
C=      E=
Am=     Bm=
D=The opening is played on a keyboard, but you can imitate it on guitar
e|------10-----------10------|
b|-10-8----10-8-10-8----10-8-|
g|---------------------------|
This continues until the third chorus, then changes to
e|-------12-------------12-------|
b|-12-10----12-10-12-10----12-10-|
g|-------------------------------|

(VI)
G                               C
Sometimes I wonder how I'd ever make it through,
                           Am                          D
Through this world without having you, I just wouldn't have a clue
G                                                   C
'Cause sometimes it seems like this world's closing in on me,
                      Am                                D
And there's no way of breaking free, and then I see you reach for me
C                 G                Am               D
Sometimes I wanna give up, I wanna give in, I wanna quit the fight
C                   Am        D                     D7
And then I see you, baby, and everything's alright, everything's alright


(chorus)
G      D       C                     G         D            C                 D
When I see you smile, I can face the world, oh oh, you know I can do anything
G      D       C                     G         D            C
When I see you smile, I see a ray of light, oh oh, I see it shining right 

through the rain
       Am                D                         G
When I see you smile, oh yeah, baby when I see you smile at me

(VII)
G                                             C
Baby there's nothing in this world that could ever do
                     Am                                    D
What a touch of your hand can do, it's like nothing that I ever knew
C                    G                Am                     D
And when the rain is falling, I don't feel it, 'cause you're here with me now
C                   Am       D                          D7
And one look at you baby, is all I'll ever need, you're all I'll ever need

(chorus)

C                 G                Am               D
Sometimes I wanna give up, I wanna give in, I wanna quit the fight
C                  Am        D                    D7  
And then I see you baby, and everythings alright, everything's alright
G
So right...

(Instrumental break)

G D C D

(The chorus is the same, but two steps higher)
A      E       D                     A         E            D                 E
When I see you smile, I can face the world, oh oh, you know I can do anything
A      E       D                     A         E            D    
When I see you smile, I see a ray of light, oh oh, I see it shining right
E
through the rain, yeah
A      E       D                     A         E            D                   
When I see you smile, I can face the world, oh oh, you know I can do anything
       Bm                E                         A    D  Bm       A  
When I see you smile, oh yeah, baby when I see you smile,  smile at me


Gak Kayak MAntanmu Chord Ello

Gak Kayak MAntanmu Chord Ello

[intro] C D G 
C D 

    G          Em                      Bm    C 
aku bukanlah orang yang punya harta berlimpah 
    G          Em                   Bm  C 
aku hanyalah orang yang biasa-biasa saja 
Am           Bm           C 
tapi aku selalu setia padamu 
Am           Bm           C  D 
dan aku selalu jujur kepadamu 

[chorus] 
                 G           D 
gak kayak mantanmu yang selalu  
         Em              Cm 
menyakitimu engak pernah mau ngurusin kamu 
G          D     
bohongin kamu  
           Em            Cm         G   
curangin kamu enggak peduli perasaanmu  
C     D     G  C D 
aku bukan dia 

    G          Em                Bm    C 
lupakan saja semua janji-janji manisnya 
      G          Em              Bm     C 
hilangkan saja semua kenangan bersamanya 
Am        Bm                C 
kini ada aku yang setia padamu 
Am        Bm                C  D 
kini ada aku yang cinta padamu 


[chorus] 
                 G           D 
gak kayak mantanmu yang selalu  
         Em              Cm 
menyakitimu engak pernah mau ngurusin kamu 
G          D     
bohongin kamu  
           Em            Cm         G 
curangin kamu enggak peduli perasaanmu 


Em      Bm           C           G  D/F# 
mengapa kau masih terbayang olehnya 
Em        Bm       C 
sampai kapan aku menunggumu 


[solo] C D G 
       C D Em 
       C D 

[chorus] 
                 G           D 
gak kayak mantanmu yang selalu  
         Em              Cm 
menyakitimu engak pernah mau ngurusin kamu 
G          D     
bohongin kamu  
           Em            Cm         G 
curangin kamu enggak peduli perasaanmu 

                 G           D 
gak kayak mantanmu yang selalu  
         Em              Cm 
menyakitimu engak pernah mau ngurusin kamu 
G          D     
bohongin kamu  
           Em            Cm  
curangin kamu enggak peduli perasaanmu 

[outro] G